Rabu, 01 Mei 2013

Mobil Kuno Mr Bean

 Jangan Anggap Enteng "Mobil Mr Bean"

 

 SEMAKIN kencang pedal gas diinjak, bodi bagian belakang minivan cooper tersebut berputar semakin cepat. Sehingga membuat orang-orang yang menonton waktu itu menjadi terpana. Mobil buatan Inggris ini digerakkan roda bagian depan (front wheel drive).

Tidak banyak orang yang bisa memutar mobil front wheel drive dengan kecepatan tinggi seperti yang ditunjukkan Pa-Qoor. Oleh karena itu, tidak heran kalau dia berhasil meraih medali dan penghargaan dari berbagai lomba baik slalom test maupun touring mobil-mobil kuno. Piala dan penghargaan tersebut tampak berjejer di rumah Pa-Qoor.

Meski mobil mini cooper jenis van milik Pa-Qoor sudah ditawar banyak orang, tetapi dia tidak mau menjualnya. Dia tidak hanya sekadar penggemar mobil kuno tetapi sekaligus pemilik bengkel spesialis mobil Morris dan Mini cooper yang berlokasi di Jalan Golf I Nomor 48 Gunungsari, Surabaya. Bengkel Pa-Qoor menyatu dengan tempat tinggalnya.

Di bengkel tersebut terdapat beberapa jenis mobil mini cooper yang sedang diperbaiki. Pa-Qoor mempekerjakan tiga orang tenaga mekanik yang semuanya sudah memiliki pengalaman dan keahlian dalam menangani mesin dan bodi mobil mini cooper. Misalnya, Ismanu memiliki keahlian dalam membangun bodi, sedangkan Woto ahli dalam pengecatan, dan Unyil ahli semua mesin mini cooper.

"Dia memang dipanggil Unyil. Sebenarnya dia ini tidak pernah sekolah tetapi karena sudah lama ikut kita, Unyil paling mengerti soal mesin morris dan mini cooper," kata Joko, adik kandung Pa-Qoor yang saat ini sama-sama mengelola bengkel.

MOBIL mini cooper yang sudah rusak parah pun, bisa diperbaiki kembali menjadi bagus di bengkel Pa-Qoor. Memperbaiki mini cooper tidak bisa cepat seperti memperbaiki mobil-mobil Jepang, karena onderdil mobil kuno tersebut sebagian besar harus diimpor dari Inggris. Sehingga harga onderdil menjadi mahal.

Misalnya, pelek (velg) orisinal mini cooper ukuran 10 inci bisa mencapai Rp 6 juta per unit. Tidak hanya itu, filter oli, radiator, kaca, pegangan pintu, dan aksesori lainnya juga didatangkan dari luar negeri. Demikian pula alat-alat mekanik yang dipakai untuk membongkar pasang mobil mini cooper, adakalanya juga harus diimpor dari Inggris.

Meski biaya untuk membangun kembali mini cooper yang sudah rongsokan sangat mahal, tetapi bagi sebagian penggemar mobil kuno, merogoh kocek hingga Rp 80 juta, tidak menjadi masalah. "Padahal, harga rongsokan mini cooper mungkin hanya Rp 12 juta," kata Joko. "Belum lama ini, mobil mini cooper tahun 1977 (1.300 cc) yang sudah di cat dengan gambar Mr Bean sudah laku dijual kepada salah satu pejabat di Kediri seharga Rp 100 juta," tambah Pa-Qoor.

Di Indonesia, memang tidak banyak bengkel mobil jenis ini. Jumlahnya masing-masing satu di Kota Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Oleh karena itu, bengkel Pa-Qoor sudah kesohor di kalangan penggemar mobil kuno. Bahkan, seniman dari Yogyakarta, Butet Kertaredjasa pun membeli mobil mini cooper dari bengkel Pa-Qoor.

"Kita baru saja menjual tiga mini cooper tahun 1976 dengan harga antara Rp 60 juta sampai Rp 75 juta per unit. Harga mobil buatan Jepang kalah lho dibandingkan mini cooper. Mobil Jepang tahun 1976, pasti harganya sudah jatuh," ujar Pa-Qoor.

YANG membeli mini cooper kebanyakan para penggemar mobil kuno. Komunitas penggemar mobil lawas ini tergabung dalam Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), sementara penggemar mobil Morris di Surabaya tergabung dalam Surabaya Morris Club (SMC) yang saat ini berjumlah 60 orang. "Kami baru saja melakukan tour Jakarta-Bali. Mobil minivan cooper saya yang berwarna putih, saya bawa dulu ke Jakarta kemudian dari Jakarta balik ke Bali," kata Pa-Qoor.

Meski ukuran bodi kecil tetapi kecepatan mini cooper jangan dianggap enteng karena mobil ini memiliki kecepatan maksimum hingga 160 kilometer per jam. "Saya pernah membawa mini cooper dari Surabaya ke Jakarta dengan kecepatan rata-rata antara 100 km per jam sampai 110 km/jam dan menghabiskan bensin sebanyak 42 liter. Jalan non stop," kata Joko.

Dalam kesempatan lain, pernah mencoba dari Yogyakarta ke Surabaya dibutuhkan waktu lima jam dengan jumlah bensin yang dihabiskan sebanyak 30 liter bensin. Jadi, memakai mini cooper atau Morris sebenarnya sangat irit karena hanya membutuhkan bensin 1 liter untuk menempuh perjalanan 16 kilometer.

Pada akhir tahun 1960-an, mobil Morris pernah populer ketika berjaya dalam reli di Montecarlo, Italia. Saat ini mobil Morris maupun mini cooper sudah banyak modifikasinya, apalagi setelah bergabung dengan BMW. Produk mobil Morris diproduksi antara tahun 1961 sampai tahun 1979.

Selama ini, mobil mini cooper lebih banyak diperkenalkan oleh Mr Bean dari Inggris. Jumlah mobil Morris di Indonesia sekitar 400 unit dan semuanya masih jalan.

"Adakalanya untuk memperbaiki bodi Morris atau mini cooper harus dengan keterampilan tangan (hand made), karena membutuhkan ketelitian kita mengembalikan ke bentuk aslinya," jelas Joko.

MENURUT dia, terdapat berbagai jenis mobil Morris, yakni Morris minor seri salon dengan 1.000 cc. Kemudian jenis Ashley 1.000 cc tahun 1976, dan Morris Moke seri Jeep 1.000 cc. Ada juga jenis mobil Morris Station Wagon tahun 1961 dengan 1.000 cc.

Semula Joko tidak ikut menangani bengkel kegemaran kakaknya, tetapi karena setiap hari melihat mobil Morris dan Mini Cooper, akhirnya sekarang ikut menangani bersama-sama. Para pemilik mobil kuno pada umumnya lebih mengutamakan hobi disamping bisa menjalin persahabatan di antara sesama pemilik.

"Harga ?mobil hobi? ini biasanya mengikuti kata hati. Jadi, besarnya harga suatu mobil kuno tergantung pada suka tidaknya orang. Karena itu, saya kadang rugi, juga kadang untung. Kalau ada orang lain yang suka sekali pada mobil kita, bisa untung. Sebaliknya kalau kita juga suka pada mobil yang dipunyai orang lain, kita bisa rugi," kata Joko melukiskan tentang untung ruginya bisnis mobil kuno.

Di bengkel Pa-Qoor, untuk pengerjaan pergantian pelat bodi dan pengecatan, rata-rata harus mengeluarkan sekitar Rp 15 juta per mobil. Sehingga kalau dijumlah dengan pengerjaan mesin sekitar Rp 30 juta. "Tapi harga relatif, kalau yang punya ingin serba orisinal dan ingin mengembalikan mobilnya ke bentuk aslinya, mungkin bisa lebih mahal


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar